Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu sosial dan ilmu politik dengan ruang lingkup kajian ilmu komunikasi yang fokus mewadahi karya ilmiah hasil penelitian praktisi,mahasiwa/i ilmu komunikasi di dalam Universitas Muhammadiyah Bengkulu, maupun di luar lingkup Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer), merupakan jurnal ilmiah dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Jurnal Ilmiah ini diperuntukkan bagi praktisi, praktisi, mahasiswa ilmu komunikasi. Jurnal Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer) ini terbit dalam 1 tahun 2 kali di bulan Juni dan Desember.</span></span></span></span></p> <p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Jurnal Ilmiah Terapan : 2775-4316</span></span></span></span></p> <p><img src="https://jurnal.umb.ac.id/public/site/images/sridwifajarini/barqode_madia_1.jpg" alt="" /></p>Universitas Muhammadiyah Bengkuluen-USJurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)2775-4316PENGEMBANGAN TOKOH CHO SANG-GU DALAM SERIAL MOVE TO HEAVEN
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8541
<p><span class="s47">Penelitian</span> <span class="s47">ini</span> <span class="s47">bertujuan</span> <span class="s47">untuk</span> <span class="s47">menganalisis</span> <span class="s47">perkembangan</span> <span class="s47">karakter</span><span class="s47"> Cho Sang-</span><span class="s47">gu</span> <span class="s47">dalam</span><span class="s47"> serial Move to Heaven </span><span class="s47">menggunakan</span> <span class="s47">pendekatan</span><span class="s47">semiotika</span><span class="s47"> Roland Barthes yang </span><span class="s47">mencakup</span> <span class="s47">tiga</span> <span class="s47">lapisan</span> <span class="s47">makna</span><span class="s47">: </span><span class="s47">denotasi</span><span class="s47">, </span><span class="s47">konotasi</span><span class="s47">, dan </span><span class="s47">mitos</span><span class="s47">. </span><span class="s47">Hasil </span><span class="s47">penelitian</span> <span class="s47">menunjukkan</span> <span class="s47">bahwa</span> <span class="s47">transformasi</span><span class="s47">karakter</span><span class="s47"> Sang-</span><span class="s47">gu</span> <span class="s47">mencerminkan</span><span class="s47"> proses </span><span class="s47">penyembuhan</span> <span class="s47">emosional</span><span class="s47"> dan </span><span class="s47">redefinisi</span> <span class="s47">identitas</span> <span class="s47">maskulin</span><span class="s47"> yang </span><span class="s47">kaku</span><span class="s47">. Pada level </span><span class="s47">denotatif</span><span class="s47">, </span><span class="s47">perubahan</span><span class="s47">tampak</span> <span class="s47">melalui</span> <span class="s47">tindakan</span> <span class="s47">nyata</span><span class="s47"> Sang-</span><span class="s47">gu</span><span class="s47"> yang </span><span class="s47">semula</span> <span class="s47">tertutup</span><span class="s47"> dan </span><span class="s47">defensif</span> <span class="s47">menjadi</span> <span class="s47">lebih</span> <span class="s47">terbuka</span><span class="s47"> dan </span><span class="s47">suportif</span><span class="s47">. Pada level </span><span class="s47">konotatif</span><span class="s47">, </span><span class="s47">simbol-simbol</span> <span class="s47">seperti</span> <span class="s47">rumah</span><span class="s47">, </span><span class="s47">dapur</span><span class="s47">, </span><span class="s47">meja</span> <span class="s47">makan</span><span class="s47">, </span><span class="s47">serta</span> <span class="s47">pencahayaan</span><span class="s47">dan </span><span class="s47">warna</span> <span class="s47">pakaian</span> <span class="s47">menjadi</span> <span class="s47">penanda</span> <span class="s47">kehangatan</span><span class="s47">, </span><span class="s47">keterbukaan</span><span class="s47">, dan </span><span class="s47">keterhubungan</span> <span class="s47">emosional</span><span class="s47">. Pada level </span><span class="s47">mitos</span><span class="s47">, serial </span><span class="s47">ini</span> <span class="s47">menantang</span> <span class="s47">narasi</span><span class="s47">maskulinitas</span> <span class="s47">patriarkal</span><span class="s47"> yang </span><span class="s47">membatasi</span> <span class="s47">ekspresi</span> <span class="s47">emosional</span> <span class="s47">laki-laki</span><span class="s47">, dan </span><span class="s47">memperkenalkan</span><span class="s47"> model </span><span class="s47">maskulinitas</span> <span class="s47">baru</span><span class="s47"> yang </span><span class="s47">empatik</span><span class="s47"> dan </span><span class="s47">inklusif</span><span class="s47">. Hasil </span><span class="s47">penelitian</span> <span class="s47">menunjukkan</span> <span class="s47">bahwa</span> <span class="s47">perkembangan</span> <span class="s47">karakter</span><span class="s47">Sang-</span><span class="s47">gu</span> <span class="s47">tidak</span> <span class="s47">hanya</span> <span class="s47">didorong</span><span class="s47"> oleh </span><span class="s47">alur</span> <span class="s47">cerita</span><span class="s47">, </span><span class="s47">tetapi</span><span class="s47"> juga oleh </span><span class="s47">kekuatan</span><span class="s47">simbolik</span><span class="s47"> visual </span><span class="s47">dalam</span> <span class="s47">struktur</span> <span class="s47">naratif</span><span class="s47"> serial. </span><span class="s47">Kehadirannya</span> <span class="s47">sebagai</span><span class="s47">figur</span><span class="s47"> ayah, </span><span class="s47">penjaga</span><span class="s47">, dan </span><span class="s47">pendengar</span> <span class="s47">membuka</span> <span class="s47">ruang</span> <span class="s47">bagi</span> <span class="s47">pemaknaan</span><span class="s47">ulang</span> <span class="s47">atas</span> <span class="s47">peran</span> <span class="s47">laki-laki</span> <span class="s47">dalam</span> <span class="s47">ranah</span> <span class="s47">domestik</span><span class="s47"> dan </span><span class="s47">relasi</span> <span class="s47">emosional</span><span class="s47">. </span><span class="s47">Dengan</span> <span class="s47">demikian</span><span class="s47">, serial </span><span class="s47">ini</span> <span class="s47">menjadi</span> <span class="s47">cermin</span> <span class="s47">dari</span> <span class="s47">nilai-nilai</span><span class="s47">kemanusiaan</span><span class="s47">, </span><span class="s47">pentingnya</span> <span class="s47">relasi</span> <span class="s47">antarindividu</span><span class="s47">, </span><span class="s47">serta</span> <span class="s47">keberanian</span> <span class="s47">untuk</span><span class="s47">mengalami</span> <span class="s47">perubahan</span><span class="s47"> dan </span><span class="s47">pertumbuhan</span> <span class="s47">emosional</span><span class="s47">.</span></p> <p><span class="s47"><strong>Kata kunci</strong> : Pengembangan,Karakter tokoh,Serial</span></p>Berlian Aprilia SeptianaSri Dwi Fajarini
Copyright (c) 2025 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306219721310.36085/madia.v6i1.8541REPRESENTASI NILAI-NILAI PATRIOTISME DALAM FILM 13 BOM DI JAKARTA
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8542
<p>Film sebagai media komunikasi massa memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan dan nilai-nilai kepada masyarakat, termasuk nilai-nilai kebangsaan dan patriotisme. Film “13 Bom di Jakarta” merupakan salah satu karya sinema Indonesia yang mengangkat tema terorisme dan perjuangan aparat keamanan dalam melindungi negara. Melalui berbagai simbol dan tanda visual, film ini berpotensi mengkomunikasikan nilai-nilai patriotisme kepada penonton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi nilai-nilai patriotisme yang terkandung dalam film “13 Bom di Jakarta” melalui pendekatan semiotika, dengan fokus pada bagaimana simbol-simbol, tanda, dan makna dalam film tersebut merepresentasikan semangat patriotisme dan cinta tanah air. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika model Roland Barthes dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi mendalam terhadap adegan-adegan film, dialog, visual, dan audio yang mengandung unsur patriotisme. Data kemudian dianalisis melalui tiga tahapan semiotika Barthes yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Objek penelitian difokuskan pada scene-scene yang menampilkan simbol kebangsaan, pengorbanan, dan perjuangan melawan terorisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film “13 Bom di Jakarta” berhasil mengkomunikasikan nilai-nilai patriotisme melalui berbagai tanda dan simbol. Nilai-nilai tersebut meliputi pengorbanan untuk negara, persatuan dalam menghadapi ancaman, keberanian aparat keamanan, dan semangat gotong royong masyarakat. Film ini secara efektif menggunakan representasi visual dan naratif untuk membangun kesadaran patriotisme dan nasionalisme di kalangan penonton, sekaligus memberikan edukasi tentang bahaya terorisme bagi kehidupan berbangsa</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong> Representasi Film, Patriotisme, 13 Bom di Jakarta, Semiotika Roland Barthes</p>Iqbal OktariadiSri Dwi Fajarini
Copyright (c) 2025 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306221423010.36085/madia.v6i1.8542STRATEGI PROMOSI BISNIS ONLINE MELALUI FACEBOOK OLEH IBU RUMAH TANGGA DI DESA TANAH REKAH, KABUPATEN MUKOMUKO
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8543
<p><span class="s36">Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi promosi bisnis online yang dilakukan oleh ibu rumah tangga di Desa Tanah Rekah melalui pemanfaatan media sosial Facebook. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Facebook menjadi media promosi yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan serta kebiasaan digital masyarakat desa, terutama bagi pelaku usaha rumahan yang memiliki keterbatasan modal dan akses terhadap toko fisik. Strategi promosi yang diterapkan secara intuitif mengikuti model AIDA </span><span class="s37">(Attention, Interest, Desire, </span><span class="s37">Action</span><span class="s37">),</span><span class="s36">melalui unggahan foto produk, deskripsi yang jelas, komunikasi aktif dengan konsumen, serta pemanfaatan promosi seperti diskon dan ajakan langsung. Dukungan sistem seperti COD dan gratis ongkir turut mendorong peningkatan kepercayaan dan minat beli konsumen. Selain berdampak pada peningkatan pendapatan, penggunaan Facebook juga memperkuat pemberdayaan ekonomi ibu rumah tangga tanpa mengganggu peran domestik mereka. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial dapat menjadi sarana kewirausahaan digital yang efektif di wilayah pedesaan, membuka akses pasar lebih luas, dan mendorong partisipasi perempuan dalam ekonomi digital lokal. </span></p> <p><span class="s36"><br /><strong>kata kunci: </strong></span>Promosi Bisnis,Facebook,Ibu rumah Tangga.</p>Devina Tri SumartiRiswanto Riswanto
Copyright (c) 2025 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306223124410.36085/madia.v6i1.8543KOMUNIKASI ANTARBUDAYA SEBAGAI STRATEGI PELESTARIAN ADAT BEKAGOK’AN SUKU BASEMAH DI PADANG BINDU
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8550
<p><span class="s39">Penelitian</span> <span class="s39">ini</span> <span class="s39">bertujuan</span> <span class="s39">untuk</span> <span class="s39">menganalisis</span> <span class="s39">peran</span> <span class="s39">komunikasi</span><span class="s39">antarbudaya</span> <span class="s39">dalam</span> <span class="s39">pelestarian</span> <span class="s39">adat</span> <span class="s39">Bekagok’an</span><span class="s39"> Suku Basemah di Desa Padang Bindu. Hasil </span><span class="s39">penelitian</span> <span class="s39">menunjukkan</span> <span class="s39">bahwa</span> <span class="s39">pelestarian</span> <span class="s39">adat</span><span class="s39">tidak</span> <span class="s39">hanya</span> <span class="s39">bergantung</span><span class="s39"> pada </span><span class="s39">pelaksanaan</span> <span class="s39">seremonial</span><span class="s39">, </span><span class="s39">tetapi</span><span class="s39"> juga pada proses </span><span class="s39">komunikasi</span> <span class="s39">lintas</span> <span class="s39">generasi</span><span class="s39"> dan </span><span class="s39">lintas</span> <span class="s39">etnis</span><span class="s39"> yang </span><span class="s39">berlangsung</span><span class="s39">secara</span> <span class="s39">dialogis</span><span class="s39"> dan </span><span class="s39">partisipatif</span><span class="s39">. </span><span class="s39">Melalui</span> <span class="s39">pendekatan</span> <span class="s39">interaksionisme</span><span class="s39">simbolik</span><span class="s39">, </span><span class="s39">ditemukan</span> <span class="s39">bahwa</span> <span class="s39">makna</span> <span class="s39">budaya</span> <span class="s39">dalam</span> <span class="s39">prosesi</span> <span class="s39">adat</span> <span class="s39">seperti</span><span class="s39">tarian</span><span class="s39">, </span><span class="s39">masakan</span> <span class="s39">tradisional</span><span class="s39">, dan </span><span class="s39">simbol-simbol</span> <span class="s39">lainnya</span> <span class="s39">dibentuk</span><span class="s39"> dan </span><span class="s39">diwariskan</span> <span class="s39">melalui</span> <span class="s39">interaksi</span> <span class="s39">sosial</span><span class="s39"> yang </span><span class="s39">hidup</span><span class="s39"> dan </span><span class="s39">bermakna</span><span class="s39">. </span><span class="s39">Tiga</span><span class="s39">dimensi</span> <span class="s39">utama</span> <span class="s39">dalam</span> <span class="s39">interaksionisme</span> <span class="s39">simbolik</span><span class="s39">, </span><span class="s39">yakni</span><span class="s39"> mind, self, dan society, </span><span class="s39">menjadi</span> <span class="s39">dasar</span> <span class="s39">dalam</span> <span class="s39">pewarisan</span> <span class="s39">budaya</span><span class="s39">: </span><span class="s39">simbol</span> <span class="s39">adat</span><span class="s39">membentuk</span> <span class="s39">pemahaman</span> <span class="s39">generasi</span> <span class="s39">muda</span><span class="s39">, </span><span class="s39">membangun</span> <span class="s39">identitas</span> <span class="s39">diri</span><span class="s39">sebagai</span> <span class="s39">bagian</span> <span class="s39">dari</span> <span class="s39">komunitas</span> <span class="s39">adat</span><span class="s39">, </span><span class="s39">serta</span> <span class="s39">memperkuat</span> <span class="s39">struktur</span> <span class="s39">sosial</span><span class="s39">masyarakat</span><span class="s39">. Di </span><span class="s39">sisi</span><span class="s39"> lain, media </span><span class="s39">sosial</span> <span class="s39">muncul</span> <span class="s39">sebagai</span><span class="s39"> medium </span><span class="s39">baru</span><span class="s39">dalam</span> <span class="s39">mendukung</span> <span class="s39">dokumentasi</span><span class="s39"> dan </span><span class="s39">diseminasi</span> <span class="s39">nilai-nilai</span> <span class="s39">adat</span><span class="s39">, </span><span class="s39">meskipun</span> <span class="s39">memerlukan</span> <span class="s39">pendekatan</span><span class="s39"> yang </span><span class="s39">kontekstual</span><span class="s39"> agar </span><span class="s39">tidak</span> <span class="s39">terjadi</span><span class="s39">penyederhanaan</span> <span class="s39">makna</span><span class="s39">. Oleh </span><span class="s39">karena</span> <span class="s39">itu</span><span class="s39">, </span><span class="s39">komunikasi</span> <span class="s39">antarbudaya</span><span class="s39">terbukti</span> <span class="s39">menjadi</span><span class="s39"> strategi </span><span class="s39">kunci</span> <span class="s39">dalam</span> <span class="s39">menjaga</span> <span class="s39">keberlanjutan</span> <span class="s39">adat</span><span class="s39">Bekagok’an</span><span class="s39">, </span><span class="s39">dengan</span> <span class="s39">menekankan</span> <span class="s39">kolaborasi</span> <span class="s39">antar</span> <span class="s39">generasi</span><span class="s39">, </span><span class="s39">pemaknaan</span><span class="s39">simbolik</span><span class="s39"> yang </span><span class="s39">reflektif</span><span class="s39">, </span><span class="s39">serta</span> <span class="s39">adaptasi</span> <span class="s39">terhadap</span> <span class="s39">perkembangan</span> <span class="s39">teknologi</span><span class="s39">komunikasi</span><span class="s39">.</span></p> <p><span class="s39"><strong>kata kunci :</strong> komunikasi antar budaya,pelestarian,adat bekagok'an</span></p>Lucky RazikaSri Dwi Fajarini
Copyright (c) 2025 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306224525910.36085/madia.v6i1.8550KOMUNIKASI INTERPERSONAL KONSELOR DENGAN PECANDU NARKOBA MENGGUNAKAN PENDEKATAN HUMANISTIK (STUDI KASUS DI RUMAH REHABILITASI YAYASAN KARUNIA INSANI)
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8584
<p>Penelitian ini membahasa mengenai bagaimana Komunikasi interpersonal sangat berperan penting yang terbangun antara konselor dengan pecandu narkoba di Rehabilitasi Yayasan Karunia Insani Rumah Female Rejang Lebong. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif menggunakan teknik pengambilan Purposive sampling. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal konselor dengan pecandu narkoba di Rehabilitasi Yayasan Karunia Insani Rumah Female Rejang Lebong. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang terbangun antara konselor dengan pasien pecandu narkoba adalah menggunakan pendekatan humanistic diantaranya (1) Melakukan Pendekatan terhadap Pasien Pecaandu Narkoba untuk menumbuhkan sikap Keterbukaan, sangat berpengaruh dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal konselor dengan pecandu yang efektif. (2) Menumbuhkan Sikap Empati, Konselor terhadap pasien ataupun sebaliknya, sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna baik yang nampak maupun yang terkandung, baik dalam aspek perasaan, pikiran dan keinginan, ketika empati tersebut tumbuh dalam proses komunikasi interpersonal, maka suasana hubungan komunikasi akan dapat berkembang dan tumbuh sikap saling pengertian dan penerimaan, (3)Menumbuhkan Rasa Positif dalam diri pasien/klien, kesuksesan komunikasi interpersonal banyak tergantung pada kualitas pandangan dan perasaan diri; positif atau negatif. Pandangan dan perasaan tentang diri yang positif, terhadap konselor kepada pecandu atau sebaliknya akan lahir pola perilaku komunikasi interpersonal yang positif pula. (4)Memberikan Semangat dan Dukungan, pemberian dorongan atau pengobaran semangat dari konselor kepada pecandu, sehingga dengan adanya dukungan dalam situasi tersebut, komunikasi interpersonal akan bertahan lama karena tercipta suasana yang mendukung. (5)Implementasi Rasa Kesetaraan yang diberikan oleh Konselor terhadap Pasien/Klien (Equality), perasaan sama yang ditumbuhkan oleh konselor kepada klien, merasa sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, dan rasa hormat pada perbedaan pendapat menghasilkan rasa nyaman, yang akhirnya proses komunikasi interpersonal konselor dan klien menjadi berjalan dengan baik dan lancar. Efektifitas komunikasi interpersonal menjadi penting untuk membantu individu yang terlibat dalam mencapai tujuannya.</p> <p><strong>Kata Kunci : Komunikasi Interpersonal, Konselor, Pecandu Narkoba, Rehabilitasi</strong></p>Zakiyyah Wardatul LainaEceh Trisna Ayuh
Copyright (c) 2025 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306226027310.36085/madia.v6i1.8584Komunikasi Interpersonal Pelaku Judi Online (Game Slot) untuk Mengatasi Kecanduan Judi Online di Kelurahan Ibul Kota Manna Bengkulu Selatan
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8586
<p>Abstrak</p> <p>Penelitian ini bertujuan guna mengetahui peran komunikasi interpersonal dalam membantu pelaku judi online (game slot) mengatasi kecanduan di Kelurahan Ibul, Kota Manna, Bengkulu Selatan. Penelitian memakai metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, dengan melibatkan 4 informan yang dipilih secara purposive berdasarkan kriteria yang relevan. Analisis data dilakukan memakai model interaktif Miles dan Huberman dengan validasi melalui triangulasi sumber dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal antar pelaku berlangsung intens dalam komunitas pertemanan seperti tongkrongan dan grup digital. Komunikasi yang terjalin bersifat terbuka, egaliter, dan emosional, yang di satu sisi memperkuat kebiasaan berjudi, namun di sisi lain mulai menjadi media saling mengingatkan tentang bahaya kecanduan. </p> <p>kata kunci : game slot,judi online,komunikasi <sup>interpersonal </sup></p>M. Zahril PuriJuliana Kurniawati
Copyright (c) 2025 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306227428610.36085/madia.v6i1.8586RESEPSI MAHASISWA FISIP UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU TERHADAP KEKERASAN PSIKOLOGIS DALAM DRAMA WEAK HERO CLASS 1
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8592
<p>Fenomena Korean Wave atau Hallyu telah menyebar luas ke seluruh dunia dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk konsumsi media oleh generasi muda. Salah satu produk budaya Korea yang banyak digemari adalah drama Korea, yang tidak hanya menyajikan hiburan tetapi juga mengangkat isu-isu sosial seperti kekerasan psikologis. Drama Weak Hero Class 1 merupakan salah satu contoh tayangan yang menggambarkan kekerasan psikologis di lingkungan sekolah secara intens. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu angkatan 2021 menerima dan memaknai representasi kekerasan psikologis dalam drama tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori resepsi Stuart Hall, penelitian ini mengkaji cara mahasiswa menginterpretasikan pesan-pesan kekerasan non-fisik yang ditampilkan dalam drama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audiens tidak secara pasif menerima pesan, melainkan memberikan makna yang beragam tergantung pada latar belakang pengalaman dan pemahaman mereka. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang bagaimana media populer membentuk kesadaran sosial remaja terhadap isu kekerasan psikologis.</p> <p> </p> <p><strong>Kata Kunci :</strong> Korean Wave, kekerasan psikologis, drama Korea, resepsi penonton, Stuart Hall</p>Ivan Al FayedJuliana Kurniawati
Copyright (c) 2025 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306228730010.36085/madia.v6i1.8592ANALISIS SEMIOTIKA REPRESENTASI TENTANG PERJUANGAN RASIAL DALAM FILM SELMA
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8836
<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Film Selma merupakan salah satu karya yang menyoroti isu rasial dan perjuangan hak sipil di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Penelitian ini menganalisis representasi perjuangan rasial dalam film “Selma” menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan analisis deskriptif, penelitian ini menunjukkan bahwa film “Selma” merepresentasikan perjuangan rasial melalui karakterisasi Martin Luther King Jr. sebagai pemimpin yang kuat dan berani. Analisis semiotika juga mengungkapkan bahwa film ini menggunakan tanda-tanda visual dan tekstual yang kuat untuk menggambarkan ketidakadilan dan ketidakadilan yang dialami masyarakat kulit hitam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film “Selma” dapat menjadi sarana efektif untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan sosial. Penelitian ini dapat menjadi acuan bagi penelitian lain yang ingin menganalisis representasi perjuangan rasial dalam film atau media lainnya. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pemahaman tentang peran film dalam membangun kesadaran dan mendorong perubahan sosial. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa film “Selma” dapat menjadi contoh bagi film-film lain yang ingin menggambarkan perjuangan rasial dan perubahan sosial. Dengan menggunakan analisis semiotika, penelitian ini dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang bagaimana film dapat digunakan sebagai sarana untuk mempromosikan perubahan sosial dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu-isu sosial. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan kontribusi pada pengembangan teori semiotika dalam analisis film dan media. Dengan demikian, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian serupa.</span></span></p> <p> </p> <p><br /><strong><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Kata Kunci: </span></span></strong><br /><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Semiotika, </span></span><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Representasi Perjuangan, Film Selma</span></span></p> <p> </p>Avin Alfarezi DinitiaJuliana Kurniawati
Copyright (c) 2026 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2026-01-302026-01-306230132210.36085/madia.v6i2.8836REPRESENTASI NILAI SOSIAL DALAM FILM MIRACLE IN CELL NO 7 VERSI TURKI
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8861
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi nilai-nilai sosial dalam film Miracle In Cell No. 7 versi Turki. Dalam proses pendeskripsian, penelitian ini menggunakan metode penelitian pendektan deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis teori semiotika dari Roland Barthes. Teori semiotika Roland Barthes yang digunakan pada penelitian ini untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terdapat dalam tanda-tanda visual dan verbal pada adegan di film tersebut. Penelitian ini menggunakan film Miracle In Cell No. 7 versi Turki sebagai subjek penelitian terkait nilai sosial dikarenakan pada film ini terdapat penanda dan petanda yang dapat merepresentasikan nilai sosial berupa kasih sayang, Tanggung jawab, dan keserasian hidup. Hasil dari pengamatan peneliti terdapat 7 adegan yang dapat merepresentasikan nilai sosial. Film bukan hanya untuk dapat menyampaikan pesan moral, tetapi juga dapat membangun sebuah makna sosial yang dalam dengan melalui struktur naratif maupun simbolis. Sehingga film dapat menjadi medium yang efektif di dalam merepresentasikan dan menyebarkan nilai-nilai sosial kepada khalayak luas.</p> <p> Kata Kunci: Representasi, Semiotika, Roland Barthes, Nilai Sosial, Film. </p> <p> </p>Ari PrenataJuliana Kurniawati
Copyright (c) 2026 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306232333710.36085/madia.v6i2.8861PERAN INTERAKSI SIMBOLIK DALAM GAME MOBILE LEGENDS TERHADAP PEMBENTUKAN IDENTITAS DAN HUBUNGAN SOSIAL REMAJA DI DESA PASAR TALO
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8864
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna interaksi simbolik dalam game Mobile Legends dan dampaknya terhadap pembentukan identitas serta hubungan sosial di kalangan remaja di Desa Pasar Talo. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap remaja yang aktif bermain game ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi simbolik dalam Mobile Legends tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga berperan signifikan dalam pembentukan identitas diri remaja. Dalam konteks teori interaksi simbolik George Herbert Mead, proses berpikir (mind) remaja dipengaruhi oleh interaksi dalam game, di mana mereka belajar memahami perspektif orang lain. Penggunaan avatar yang mencerminkan kepribadian memungkinkan remaja mengekspresikan diri dan membangun citra diri yang positif (self). Selain itu, pengalaman bermain dalam tim menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas, memperkuat ikatan sosial di antara pemain, yang berkontribusi pada dinamika hubungan sosial di luar game (society).Temuan penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana game online, khususnya Mobile Legends, berfungsi sebagai medium efektif untuk membangun identitas dan relasi sosial dalam konteks budaya lokal. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran teknologi dan permainan dalam kehidupan sosial remaja di era digital.</p> <p> </p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Interaksi simbolik, Mobile Legends, identitas, hubungan sosial, remaja</p>Meilando MeilandoEceh Trisna Ayuh
Copyright (c) 2026 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306233835110.36085/madia.v6i2.8864SEMIOTIKA MAKNA CINTA DALAM LIRIK LAGU BILA MEMANG KAMU KARYA TINTIN DAN CLARA RIVA
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8844
<p>Absrak</p> <p>Lirik lagu merupakan susunan kata-kata dalam sebuah lagu. Lirik lagu merupakan salah satu bentuk karya seni yang dimana pada gagasan lirik tersebut membentuk frasa-frasa yang mengandung makna. Lirik lagu “Bila Memang Kamu” Karya Tintin dan Clara Riva, merupakan salah satu lirik yang menarik untuk diteliti yang membahas mengenai percintaan. Penelitian ini menerapkan metode pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan teori semiotika teori Ferdinand De Saussure untuk mengungkapkan makna cinta dalam lirik lagu tersebut. Dengan menggunakan metode dokumentasi, dengan cara mencari informasi pada buku-buku maupun media sosial. Hasil penelitian yang di dapatkan adalah bahwa lirik lagu “Bila Memang Kamu”membentuk makna penanda dan petanda dalam sistem bahasa atau linguistik, dengan menggunakan sintagmatik dan paragmatik. Makna dalam lirik lagu ini menceritakan tentang perjuangan cinta yang penuh dengan rintangan. Dalam lirik lagu tersebut bersikan emosional dan perasaaan yang ingin disampaikan penulisnya. Hal yang dianalisis dalam lirik lagu “Bila Memang Kamu” Karya Tintin dan Clara Riva, berfokus dalam urutan kata-kata dalam frasa atau kalimat untuk memahami makna cinta yang terdapat pada liriknya. Dalam lirik tersebut menggambarkan seseorang yang menghadapi berbagai rintangan dalam hubungannya, namun tetap berusaha dan selalu berdoa berharap kepada Tuhannya, supaya mendapatkan restu dan jalan untuk orang yang dicintainya. Adapun struktur tanda pada lirik yang memperlihatkan bagaimana hasil dari makna dari sistem bahasa atau linguistik yang saling berhubungan dari penanda dan petanda melalui jalur sintagmatik dan paradigmatik yang telah terstruktur.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Semiotika, makna cinta, lirik lagu bila memang kamu, makna cinta</p>Rio anggaraJuliana Kurniawati
Copyright (c) 2026 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306235237010.36085/madia.v6i2.8844ANALISIS SEMIOTIKA REPRESENTASI TENTANG KEHARMONISAN KELUARGA DALAM IKLAN POLYTRON
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/8878
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi keharmonisan keluarga yang disampaikan dalam iklan Kita Bersama Polytron melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Iklan berdurasi 2 menit 36 detik ini dipilih karena memuat berbagai simbol visual dan naratif yang mencerminkan nilai-nilai keluarga, teknologi dan gaya hidup modern. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan analisis semiotik yang menitikberatkan pada tiga lapis makna Teori Roland Barthes yaitu denotasi, konotasi dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan ini merepresentasikan kebahagiaan keluarga ideal melalui simbol-simbol keseharian seperti makan bersama, perayaan dan kebersamaan di rumah. Melalui analisis denotasi, ditemukan bahwa simbol-simbol visual seperti ekspresi wajah, gerakan serta adegan yang menggambarkan bentuk nyata dari tindakan harmonisasi. Pada tingkat konotasi, iklan ini menekankan bahwa kesabaran, kasih sayang, kepedulian dan tanggung jawab dalam menjaga dan menciptakan kebahagiaan keluarga. Sementara itu, pada tingkat mitos, iklan ini membangun narasi bahwa rasa nyaman dan ketentraman dalam keluarga merupakan bagian dari terciptanya keharmonisan dalam keluarga. Di balik representasi tersebut, terdapat mitos tentang keharmonisan keluarga modern yang ditopang oleh peran teknologi sebagai fasilitator kenyamanan hidup. Selain itu, iklan ini juga mengonstruksi peran gender dan relasi emosional antar anggota keluarga secara simbolik. Dengan demikian, iklan Kita Bersama Polytron tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga membentuk makna-makna kultural yang berkaitan dengan identitas, nilai dan aspirasi masyarakat urban.</p> <p>Kata Kunci : Semiotika, Representasi Keharmonisan Keluarga, Iklan</p>Ipan Pebrian HasibuanMely Eka Karina
Copyright (c) 2026 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306237138510.36085/madia.v6i2.8878REPRESENTASI KESETARAAN DAN HAK PEREMPUAN DALAM FILM “DUA DETIK” KARYA MENJADI MANUSIA
https://gas3kglangka.umb.ac.id/index.php/madia/article/view/10087
<p>Transformasi digital telah menciptakan realitas baru dalam komunikasi massa, termasuk dalam cara penyampaian berita tentang isu-isu sosial terkini. Studi ini mengeksplorasi bagaimana film pendek “Dua Detik” karya Menjadi Manusia membangun diskusi tentang kesetaraan gender melalui penggambaran pengalaman perempuan dalam menghadapi tantangan di dunia digital. Dengan menerapkan metode kualitatif dan analisis semiotik seperti yang dikemukakan oleh John Fiske, studi ini menyelidiki makna yang dibangun dari tiga elemen: fakta yang dapat diverifikasi, representasi teknis, dan visualisasi. Visualisasi tokoh utama mencerminkan interaksi antara kerentanan dan kekuatan, menciptakan beragam citra perempuan dan menantang stereotip yang ada. Signifikansi penelitian ini terletak pada kontribusinya dalam memahami bagaimana media independen dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung kesetaraan gender.</p> <p> </p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Representasi, Kesetaraan dan Hak Perempuan, Film Dua Detik</p>Reski Dwi PutraSri Dwi Fajarini
Copyright (c) 2026 Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer)
2025-12-302025-12-306238639910.36085/madia.v6i2.10087